Pengaturan Tingkat Suhu Dan Kelembaban Pada Mesin Penetas Telur Burung Puyuh

Authors

  • Surya Adi Teknik Elektro, Institut Teknologi Adhi Tama, Surabaya
  • Antonius Ari Kunto Teknik Elektro, Institut Teknologi Adhi Tama, Surabaya
  • Titiek Suheta Teknik Elektro, Institut Teknologi Adhi Tama, Surabaya
  • Syahri Muharom Teknik Elektro, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya, Surabaya

Keywords:

ATMega32, kelembaban,, temperatur, SHT 11,, mikrokontroler, inkubator, penetas

Abstract

Faktor utama yang sangat mempengaruhi proses pertumbuhan embrio pada telur dan penetasan telur adalah suhu dan kelembaban (selain sirkulasi udara dan pemutaran telur). Dalam penelitian ini menggunakan telur puyuh sebagai bahan utama yang akan di proses. Berdasarkan referensi, suhu ruangan pengeraman dan penetasan telur puyuh ada 97℉ − 103℉ (36℃ − 39℃) dengan kelembaban 55% serta lamanya proses pengeraman sampai penetasan adalah 17 hari. Sensor SHT 11 adalah sensor kelembaban dan suhu, SHT 11 memiliki banyak kelebihan sehingga sangat cocok untuk aplikasi ini. Pemilihan chip Atmel ATMega32 sebagai otak mikrokontroler memiliki performa dan fleksibilitas serta ukuran penyimpanan data yang besar menjadi pilihan yang baik untuk mengatur sistem kerja alat. Untuk pemanas ruang inkubator menggunakan 2 lampu bohlam dengan total daya 50 watt dengan daya masing-masing lampu 25 watt, wadah penampung air untuk menimbulkan udara yang lembab serta 2 kipas sebagai pengatur sirkulasi udara dalam ruang inkubator. Dengan menggunakan sirkulasi udara dan 2 lampu bohlam sebagai sumber panas mendapatkan hasil suhu dalam ruang inkubator merata, namun memerlukan waktu yang lama yaitu 120 menit untuk mencapai suhu 39℃. Tetapi pada proses pengeraman telur burung puyuh hanya memerlukan 36℃ - 39℃ dan kelembaban 40% - 55%.

Downloads

Published

2019-08-16

How to Cite

Surya Adi, Antonius Ari Kunto, Titiek Suheta, & Syahri Muharom. (2019). Pengaturan Tingkat Suhu Dan Kelembaban Pada Mesin Penetas Telur Burung Puyuh. SinarFe7, 2(1), 459–463. Retrieved from https://journal.fortei7.org/index.php/sinarFe7/article/view/483